Jiwa, Iman dan Dzikrullah, Tiga unsur proses Tazkiah

oleh: Dr. M. Idris Abdus Shomad*

Pada hakikatnya, setiap jiwa seringkali mengarahkan kepada perbuatan irrasional, akibat dominasi pikiran emosional yang buruk terhadap pikiran rasional. Namun, orang yang beriman, selalu mewarnai jiwanya dengan cucuran rahmat dan Allah swt. dengan cara ber-dzikr tanpa henti. Dengan cara demikian, jiwa yang buruk (an-nafsul ammaratun bis suu’) akan berubah menjadi jiwa yang kritis (an-nafsul lawwaamah, jiwa yang selalu mencela dan mengkritik manakala berbuat salah atau tertinggal bebuat baik) dan an-nafsul muthma’innah, yaitu jiwa yang senantiasa memotivasi diri agar melakukan pekerjaan-pekerjaan baik. Pada akhirnya, an-nafsul muthma’innah (pikiran emosional yang telah dirahmati Allah) senantiasa akan bekerja searah dan saling mendukung dengan pikiran rasional (otak).

Di sinilah rahasia mengapa Allah swt. memerintahkan setiap mu’min agar selalu memperkuat tali hubungan dengan Allah (QS Ali lmran: 101). Karena kita seringkali kurang atau tidak mempunyai kendali atas kapan kita dilanda nafsul amaratun bis suu’ (nafsu amarah). Ilustrasi sederhana tentang orang yang dikuasai nafsu amarah dibanding dengan orang yang telah mampu mengendalikan hawa nafsunya (an-nafsul muthma’innah) adalah sebagai berikut. Seseorang sedang mengemudi di jalan tol dengan santai. Tiba-tiba pengemudi mobil lain dengan sembrono nyaris menyerempet mobil orang tersebut.

Bila pikiran orang tersebut lepas dari kendali dzikir, sehingga memicu munculnya nafsu amarah, maka bisa diduga orang itu akan mengumpat, “Sialan! Dia hampir saja menabrakku! Aku tak akan membiarkannya begitu saja!” Serta-merta ruas-ruas jari yang menggenggam kemudi mengencang, seakan-akan sedang mencekik leher orang yang baru menyalipnya. Jantung berdegup kencang dan otot-otot di wajah tersetel untuk menampilkan raut wajah bersungut-sungut.

Namun, bila orang tersebut senantiasa menghubungkan pikiran dan hatinya (rasio dan emosinya) dengan Allah (dzikir), maka orang itu akan berprasangka baik (husnuzh- zhan) terhadap si pengemudi yang menyalipnya. “Barangkali ia tidak melihatku, atau ia punya alasan kuat mengapa mengemudi begitu ngawur, siapa tahu ada keadaan darurat medis. Atau dia tengah menghadapi krisis waktu, sehingga ia mengemudi tergesa-gesa.” Sikap husnuzhzhan akan mampu menundukkan amarah kemudian menggantinya dengan sikap kasihan. Tentang hal ini, Benyamin Franklin berkata: “Nafsu amarah itu muncul tak pernah tanpa alasan, tapi amat sedikit yang alasannya benar.”

*) Alumnus S1,S2 dan S3, Imam Su’ud University, Riyadh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: